Rabu, 19 Juni 2013

Kelompok Swadaya Masyarakat Perempuan di Bitung, Sulawesi Utara

Pekerja perempuan di Sagerat ada, bukan karena terpaksa.

Memasuki tahun ke-5 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat  Mandiri Perkotaan di kelurahan Sagerat Kecamatan Matuari kota Bitung SULUT, terus membawa perubahan mengenai  pandangan masyarakat dalam  melaksanakan suatu kegiatan infrastruktur, perlahan tapi pasti, keterlibatan perempuan sudah menjadi hal lumrah dan bukan lagi hal yang “terpaksa” ada karena tuntutan program yang mensyaratkan keterlibatan perempuan sebesar 30 persen. “Memang, semua KSM Infrastruktur  dalam pemanfaatan BLM 1 2013 ini, seluruh pengurusnya ada perempuannya, apakah itu sekretaris, bendahara bahkan ketua dan wakil ketua”, ujar Hanie Ering, Koordinator LKM Nikita Waya, Kelurahan Sagerat Kecamatan Matuari Kota Bitung.

Pekerja perempuan dalam kegiatan pemanfaatan BLM sudah menjadi pandangan biasa di keluarahan ini, Indra Londah, salah satu ketua RT di lingkungan 1 yang dipercayakan KSM untuk menjadi bendahara berujar, “kita (saya) jadi pekerja di kegiatan infrastruktur sudah sejak tahun 2009, sejak BLM I dimanfaatkan dikelurahan ini dan setiap tahun, kita selalu terlibat, kalu (kalau) bukan jadi Panitia (KSM), kita menjadi pekerja biasa dan bukan hanya kita, banyak torang (kami) perempuan-perempuan yang begitu, ada bu Deisy, Frelly, Meiske, Eka dll”.

Pemanfaatan BLM 1 ditahun 2013 ini sementara dilaksanakan, Deysi Kumenit masih dipercayakan menjadi ketua KSM Berhikmat, Seska Lengkong bendaharanya, sementara di KSM Berdikari Indra Londah sebagai bendahara KSM, Frelly Kaawoan, Meiske Tindatu, Yunita dan masih banyak perempuan lainnya menjadi pekerja dalam pembuatan drainase  di lingkungan 1, hal ini sudah menjadi pemandangan biasa jika kita datang memonitoring pelaksanaan kegiatan dikelurahan ini.

“Torang (kami) turut terlibat dalam pembuatan kegiatan infrstruktur disini, ikut menumbuhkan rasa memiliki, begitu juga kami bisa sama-sama memastikan bahwa apa yang torang buat ini, kualitasnya baik dan tentu kami bisa berswadaya lewat tenaga kami..”, ujar Seska Lengkong seorang pekerja perempuan yang sehari-harinya bertugas sebagai ketua RT di lingkungan 4.



“Ada rasa bangga, sebab ketika pekerjaan selesai dan torang (kami) melihat hasilnya, kami puas karena semua ini torang yang buat, anak-anak cucu akan melihat dan merasakan hasil karya orang tua mereka...”, Deysi Kumenit, Ketua KSM Berhikmat menambahkan, sekaligus menutup wawancara kami.

Penulis:   Dianne Deivie Dirk  




Contact Person: Hanie Ering, Koordinator LKM Nikita Waya Sagerat

Berkembang Lewat pemberian diri

Caroline Gorahe

Caroline Gorahe namanya, wanita sederhana berambut keriting yang masih tetap lincah diusianya yang tidak muda lagi. Tinggal di lingkungan 4 Kelurahan Manembo-nembo Tengah, tepatnya di belakang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Petra,  KotaBitung.
  
Walaupun usia sudah menjelang senja, namun Ibu Caro (begitu beliau biasa di sapa) masih mau menjadi relawan, malahan setelah itu BKM Dua Sudara Manembo-nembo Tengah, Kecamatan Matuari Kota Bitung mempercayakan Gorahe memegang UPS (Unit Pengelola Sosial), 3 tahun berturut-turut memegang UPS, Gorahe sukses menjalankan tugasnya menumbuhkan simpati masyarakat kepadanya. Dibalik kesederhanaan hidup bersama keluarga, Gorahe dikenal sebagai orang yang suka menolong dan jujur. Terbukti simpati masyarakat tersebut membawanya menjadi 1 dari 9 anggota BKM di periode berkutnya, 2012-2015.
Awalnya pinjaman bergulir yang diusulakan oleh masyarakt kelurahan  masih diberikan oleh kepada masyarakat yang lebih prioritas menjadapatkan kesempatan itu, setelah BLM terakhir di 2012, Gorahe akhirnya mnyampaikan niatnya untuk memasukkan usulan KSM Seruni yang dipimpinya untuk mendapatkan pinjaman. Bersyukur BKM memutuskan KSM yang beranggotakan 5 orang termasuk Gorahe menjadi salah satu yang mendapatkan kesempatan untuk mengakses dana itu sebesar Rp. 5.000.000/5 anggota.

Beberapa bulan berlalu, usaha pembuatan roti manis Gorahe masih eksis malahan hari demi hari usahanya semakin berkembang, pinjaman bergulir yang diberikan bisa bermanfaat bagi Gorahe dan keluarganya, bahkan kelompok yang di pimpinnya perlahan tapi pasti semakin meningkat usaha dan pendapatan masing-masing anggotanya.

Pasar 




Penulis:   Dianne Deivie Dirk
            
Contact Person: Jarlex Katiandgho (085256149385) Koordinator BKM Dua Sudara, Kelurahan manembo-nembo tengah) 

Selasa, 11 Juni 2013

Dorbolaang, Pulau Lembeh, Bitung, saksi kebersamaan

(ditayangkan di www.p2kp.org, 11 Juni 2013)

Kebersamaan dan kekompakan Tim fasilitator Pemberdayaan masyarakat

Beraksi di KMP Tude di Selat Lembeh

Mungkin kini saatnya berbagi sedikit rahasia, mengapa Tim Koorkot Bitung bisa memborong  Reward dipertemuan tahunan yang digelar KMW OSP 8 dan Satker PNPM Mandiri Perkotaan Sulawesi Utara  di awal bulan Maret 2013 (Berita di www.P2KP.org tanggal 19 Maret 2013 oleh Feidy Kemur). Koorkot dengan kinerja sim terbaik Nasional di 2012.

Bahwa prestasi itu tidak datang dengan sendirinya, itu benar adanya, bahwa prestasi itu perlu diperjuangkan itu betul adanya, bahwa semua pihak yang terlibat dalam tim harus berani terhadap tantangan, bersama membangun kemandirian, itupun tak bisa disangkal. Intinya kebersamaan dan perjuangan dalam tim sambil terus bersama mencari solusi atas permasalahan yang ditemui.

Rapat rutin bulanan  seluruh Tim Koorkot Bitung, dilaksanakan di Kelurahan Doorbolaang Kecamatan Lembeh Selatan, 7 Mei 2013 (Rapat rutin dilaksanakan setiap bulan di lokasi Tim fasilitator yang berbeda). Kali ini selain dihadiri oleh Tim Koorkot Bitung, hadir juga, TA Infrastruktur bersama Tim dari KMW, Camat Lembeh Selatan Elvis Mantouw, S.Sos,  Lurah Doorbolaang, BKM, UP2 dan Sekretariat. Dengan menumpang KMP Tude, dari Pelabuhan penyeberangan di Kelurahan Pateten, Kec. Aertembaga Kota Bitung, hanya memakan waktu sekitar 15 menit sudah tiba di dermaga Kelurahan Papusungan Kec. Lembeh Selatan, Kota Bitung.

Sejumlah kendaraan bermotor milik fasilitator  yang turut dimuat dikapal, siap menjelajahi Pulau Lembeh menuju Kelurahan Doorbolang, melewati sepanjang Kelurahan Papusungan, Pasir Panjang, jalannya yang berkelok-kelok dan struktur tanahnya yang  menanjak, turun  dan naik menambah seru perjalanan ini, tidak terlalu lama, hanya sekitar 40 menit sudah tiba di Doorbolaang.

masih di Papusungan, Kec. Lembeh Selatan

Dalam sebuah tim kerja, sebaiknya ada yang namanya POAC (Planning Organizing Actuating & Controlling) itu dilakukan tim koorkot Bitung, hal yang sama dilakukan oleh tim-tim yang lain dalam pendampingan masyarakat, itu pasti. Namun, membangun kebersamaan dan kepedulian itu mungkin salah satu kunci keberhasilan kekompakan, itu bahkan diungkapkan oleh orang-orang lain diluar tubuh inti koorkot Bitung itu sendiri. “Disini terasa beda, beda dengan ditempat lain, kebersamaan sangat terasa”, demikian tanpa sengaja diungkapkan Akhmad Yani, salah satu auditor yang bertugas mengaudit kegiatan PNPM Perkotaan di SULUT yang sudah 2 bulan bertukagas di SULUT.




TA Infrastruktur mewakili KMW OC 8 SULUT, Novry Wurangian, ST dengan smiling face yang tertahan sebagai ekspresi khas beliau dalam menyampaikan penghargaannya terhadapat suatu prestasi ataupun sekedar penguatan bagi para pemberdayaan masyarakat (fasilitator) menyampaikan, “Kebersamaan Tim Bitung sangat terasa sejak awal keberangkatan jadi tidak heran mengapa banyak prestasi diukir disini”.
Potret pendampingan fasilitator disampaikan disini, termasuk perainkingan antar Tim Bitung (Tim 17-23 plus 35, total ada 8 Tim), perainkingan antar USK (Unit Satuan Kerja), Sosial, Ekonomi dan Teknik, sehingga fasilitator secara pribadi dan timnya bisa bercermin satu dengan yang lain yang secara tidak langsung akan memotivasi.  Menenariknya  lagi Koorkot dan Askot-askot memberikan hadiah-hadiah kecil kepada tim dan USK dengan rainking 3 tertinggi.



Tentu, apresiasi perlu disampaikan kepada pemimpin tim ini, Koorkot Bitung Ir. Teddy Sulangi yang memprakarsai, melihat plus minus masing-masing pribadi dan mengkolaborasikan itu menjadi satu nyanyian yang namanya semangat kebersamaan. Mari membangun dengan hati, We can, if We work with heart.

Audit dan Wisata di Pulau Lembeh Bitung

(dimuat di www.p2kp.org, april 2013)

Tim Audit Terkesan Panorama Kota Bitung 

Menikmati panorama Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara yang indah dan mengesankan tidak pernah direncanakan oleh Akhmad Yani dan Syamsudin, Tim Audit  Kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan Bitung dari KAP (Kantor Akuntan Publik) Muhamad Danial, Jakarta (Auditor Independen) di Kota Bitung, Rabu (27/3/2013).

Kelurahan Mawali, Pulau Lembeh, Bitung SULUT, Indonesia
Di Pulau Lembeh (Lembeh Island), tepatnya Kelurahan Pintu Kota dan Kelurahan Mawali, Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung Sulawesi Utara merupakan tempat yang dipilih untuk di check on the spot (pemeriksaan lapangan) untuk kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan Bitung  Sulawesi Utara.
Perjalanan tim auditor yang didampingi para Askot, SF dan  fasilitator ke lokasi check on the spot cukup menarik karena harus menumpang perahu motor laut melayari Selat Lembeh (Lembeh Straight).

Perjalanan melalui laut menuju Kelurahan Pintu Kota Kecamatan Lembeh Utara meski hanya memakan waktu 15 menit, ternyata sangat  mengesankan bagi kedua auditor. Begitu pula saat perjalanan dari Pintu Kota menuju Kelurahan Mawali, terkesan menjadi perjalanan wisata laut dan alam Selat Lembeh yang tidak kalah dengan laut Bunaken Manado dan Raja Ampat, Papua, mengingat Selat Lembeh sudah sangat terkenal bukan saja panortama alamnya serta keindahan bawah lautnya, juga karena biota-biota lautnya yang unik, struktur alamnya yang indah yang bisa menyayingi Taman Laut Bunaken dan Raja Ampat, meski kesan keseriusan untuk melakukan check on the spot kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan Bitung di kedua kelurahan tersebut, tetap nampak.

Kesempatan pemeriksaan oleh Auditor Independent terhadap kegiatan BKM/LKM yang di fasilitasi oleh PNPM Mandiri Perkotaan menjadi suatu momen yang ditunggu sekaligus ditakuti bagi sebagian pelaku PNPM Mandiri Perkotaan (BKM/LKM, Sekretariat, UP2 dan KSM) tentunya, karena berbagai pemikiran dari masyarakat mengenai manfaat dan fungsi audit itu sendiri.


Walaupun, sudah sering dijelaskan  bahwa pelaksanaan audit ini adalah agar masyarakat bisa mengetahui, apa yang menjadi kekurangan dan apa yang menjadi nilai tambah dari kegiatan fisik maupun administrasi dan pemberdayaan masyarakat itu sendiri, tetap ada juga warga pelaku kegiatan  yang merasa takut menghadapi auditor, walaupun diakhir  pelaksanaan audit mereka akhirnya lega dan plong karena bisa mengoreksi kesalahan jika ada.

Pulau Lembeh adalah sebuah Pulau kecil yang membentengi Pelabuhan Alam di Kota Bitung yang dipisahkan oleh Selat, yang dinamakan juga Selat Lembeh, Pulau ini terdiri atas 2 Kecamatan yaitu kecamatan Lembeh Utara dan Kecamatan Lembeh Selatan.

Kembali ke Pelabuhan Penyeberangan Ruko Pateten, Bitung

Ternyata, walaupun tempat ini harus ditujuh dengan melewati lautan namun, pelaksanaan kegiatan pemberdayaan dan kegiatan fisik dilapangan tidak kalah baiknya dengan yang dilaksanakan didalam Kota Bitung. Bahkan UPL (Unit Pengelolah Kegiatan) di BKM Kelurahan Mawali Kecamatan Lembeh Utara Robert Lumakore mendapat pujian dari Askot Infrastruktur Kota Bitung, Stevy Oike Manoppo, ST. karena dinilai punya andil besar dan maksimal dalam pelaksanaan kegiatan fisik.

Begitu pula, Ahkmad Yani sebagai Ketua Tim Audit dari KAP Muhamad Danial Jakarta menyatakan rasa puasnya dengan pelaksanaan kegiatan pada tahun 2012 di Kelurahan Pintu Kota dan Mawali Kecamatan Lembeh Utara. “saya merasa terkesan dengan masyarakat  Sulawesi Utara dan salut dengan kegiatan PNPM disini, walaupun  kedepan untuk hasil yang lebih baik perlu ada peningkatan dalam hal kontrol dan monitoring  pelaksanaan dilapangan”,  ujarnya.

Adapun kegiatan fisik yang dilakukan di dua kelurahan di Pulau Lembeh selama tahun 2012 yang dapat dikatakan sebagai prioritas yakni  pembuatan jembatan, drainase dan jalan. (*v*)

Penulis: Dianne Deivie Dirk
Senior Fasilitator Korkot Bitung

OSP 8 SULUT

Sabtu, 10 Maret 2012

TIDAK PUNYA IJASAH BUKAN MENJADI HALANGAN


Bitung, 19 Agustus 2011
Tulisan ini dimuat di  Web.P2kp.org.Cerita, tangggal 24 Agustus 2011

Adalah Deysi Kumenit  (33 tahun), ibu muda dengan 2 anak laki-laki usia SD, Ricky (11 tahun) dan Rian (7 tahun) yang bersuamikan Jeffry Lontaan (46 tahun) yang melakoni perannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus petani kecil yang tinggal di Kelurahan Sagerat Kec. Matuari Kota Bitung, SULUT.

Tahun 2008, sejak PNPM Mandiri Perkotaan masuk dan menggalang relawan dikelurahan ini, Deysi sudah menjadi relawan yang aktif. Bahkan dalam setiap kesempatan ketika ada jadwal pelatihan dikelurahan ini, Deysi tak pernah absen untuk mengikuti. Tak heran, pengetahuannya mengenai substansi program, hampir sebanding dengan fasilitator yang mendampingi kelurahan.

Seiring jalannya waktu, ketika BLM masuk di Rekening LKM Nikita Waya Kelurahan Sagerat Tahun 2009, KSM Pinasungkudan yang di ketuai oleh Deysi mendapatkan kepercayaan oleh LKM untuk menangani kegiatan pembuatan drainase. Alhasil, pekerjaan mereka tidak mengecewakan, walaupun Ketua, sekretaris dan bendahara KSM ini adalah perempuan. Tidak juga terlalu mengherankan, karena Deysi banyak belajar dari sang suami yang sehari-hari melakoni pekerjaannya sebagai Tukang Bangunan.

Banyak  KSM yang merasa, bahwa membuat Laporan Penggunaan Dana (LPD) untuk kegiatan Infrasruktur adalah pekerjaan yang cukup sulit namun, tidak demikian bagi seorang Deysi yang begitu tekun dan terlatih dalam pembuatan laporan ini. Daya tangkapnya sangat cepat, ketika fasilitator-fasilitator memberikan bimbingan, sehingga nyaris semua KSM Lingkungan, berguru padanya ketika harus membuat dan menyelesaikan LPD/LPJ.

Namun ada hal yang membuat trenyuh, ibu muda Deysi yang pintar, berwawasan luas, tekun dan peduli ini, bukanlah seseorang yang berpendidikan tinggi, bahkan saya (fasilitator) berpikir dan bicara terus terang kepadanya bahwa kemampuan dia  melebih tinggat pendidikannya, yang bahkan tidak bisa mengambil ijasah SMP yang menjadi haknya, saat lulus sekolah dulu, karena orang tuanya tak mampu menyediakan uang yang cukup untuk itu.

“Memang Ibu Deysi, Aset kelurahan ini, karena dia mau dan mampu kemudian, kepeduliannya telah teruji”. Ungkap Lurah Sagerat, Djonny Longdong,   hal senada juga disampaikan, Hanie Ering, Koordinator LKM, “Iya bu, susunan proposal kegiatan lingkungan saja dia hafal, format-format yang lain orang ba tanya pa dia”.

Besar harapan kami, banyak Deysi Deysi yang lain akan bermunculan seiring jalannya pendampingan kami dan kehidupan ekonomi yang lebih baik menjadi masa depan Deysi bersama keluarga.

Penulis:                    Dianne Deivie Dirk, SE. (Bitung SULUT)
Contact Person:        Dianne Deivie Dirk
                                                Hannie Ering (Koordinator LKM Nikita Waya Sagerat-Bitung, SULUT
                                                0813-40060350
KSM:                                       Pinasungkudan Biru, Ketua Deysi Kumenit

Bersama Semangat Sumpah Pemuda, Mewarnai DDUB 2011 Kota Bitung- SULUT


DirkaDian


Masih terbayang  lebih dari 2 tahun yang lalu, ditahun 2009, perwakilan BKM/LKM, Relawan, Fasilitator, TA, TL OC 8 SULUT, berkali-kali mengadakan pertemuan di Aula BAPEDA Bitung dan  perburuan-perburuan orang-orang penentu penetapan kebijakan APBD agar dana DDUB Bitung bisa di wujudkan.
Terkadang hari masih subuh kami harus bergegas menujuh rumah pribadi walikota Bitung untuk mencari momen tepat guna lobi dan negosiasi agar dana ini bisa dialokasikan di APBD,  atau pada kesempatan yang lain, kami harus melintasi laut menuju  Pulau Lembeh karena ada informasi Ketua DPRD Bitung akan melakukan kunjungan semi resmi ke salah satu kelurahan disana, tapi ternyata setelah beberapa jam kami menunggu disana, dikabarkan bahwa, kunjungan beliau dibatalkan, akhirnya kami balik lagi ke kantor DPRD untuk menemui beliau.

Dilain kesempatan , kami pernah menerobos masuk sampai dalam rapat pembahasan APBD perubahan di propinsi SULUT, juga dilakukan hearing bersama Kepala-kepala SKPD terkait, Panitia Penetapan Anggaran , Komisi B DPRD Kota Bitung , ujung-ujungnya diawal tahun 2010 Walikota Bitung, diundang/dipanggil ke Jakarta untuk mendengar penjelasan mengenai DDUB PNPM MP.

Tidak banyak kuli flash yang meliput kegiatan PNPM di Bitung waktu itu, hanya seorang wartawan senior dari sebuah media cetak, secara kebetulan dikenal oleh seorang anggota LKM yang kemudian menghubungi beliau saat hearing pertama di DPRD Bitung, atas rekomendasi LKM ini,  bahwa yang bersangkutan adalah termasuk wartawan yang vocal mengangkat ketidak adilan, disitulah awal PNPM MP  Bitung terexpose secara benar dan menyentuh kehalayak ramai melalui media cetak kalah itu.

Kepala-kepala SKPD terusik mengenai hal ini lewat berita melalui beberapa media cetak lokal, Walikota Bitung mulai terbuka matanya, khususnya mata hati. Perlu menjadi catatan, PNPM MP/P2KP masuk di Bitung, sejak tahun 2004 (sebagai Pilot Project).

Ditahun 2010, pemerintah mengalokasikan dana DDUB/APBD walaupun belum sesuai yang dianggarkan.  Tahun ini,  2011, tepatnya hari Kamis, 27 Oktober 2011, seluruh Koordinator BKM/LKM dipanggil untuk menandatangani NPHD (Naskah Perjanjian Hibah Daerah) Tahun 2011, di Kantor Kabag. Keuangan Pemerintah Kota Bitung.

Tepat di hari Sumpah Pemuda, Jumat, 28 Oktober 2011, Perwakilan BKM/LKM dan seluruh fasilitator diundang untuk mengikuti acara hari Sumpah Pemuda di Lapangan Kantor Walikota sekaligus menerima secara simbolis DDUB tahap I berjumlah Rp. 1 M untuk kelurahan-kelurahan yang ada di Kota Bitung.

Perwakilan PNPM MP, BKM/LKM, fasilitator ditempatkan secara terhormat di area panggung bersama pejabat-pejabat Kota, Anggota DPRD dan tokoh-tokoh  masyarakat sebagagai penghargaan dan atensi atas kepedulian membangun masyarakat dikota ini. Romel Sangian, S.Sos, Askot CD Bitung berseleroh, “Biasanya fasilitator, setiap hari dipanas matahari untuk memfasilitasi masyarakat, khusus hari ini dorang (mereka) kase tempat khusus for torang (kami) di panggung”.

Menjelang sore, dihari/tanggal yang sama, 28 Oktober 2011, Dana DDUB Rp. 1 M, sudah masuk ke Rekening LKM. “Ini, proses yang paling cepat untuk pengalokasian Dana DDUB PNPM MP yang pernah saya ikuti”, ujar Koorkot Bitung, Ir. Teddy Sulangi.

Ternyata implementasi Weinberg Theory atas teori perubahan social, 3 Tahapan yang harus dilalui dalam perubahan social yaitu: awareness (penyadaran), policy determination (penentuan kebijakan)  dan reform ( reformasi). Menjadi nyata dikota ini, kiranya  semakin meluas terjadi di berbagai tingkat kehidupan masyarakat.

Sebagai fasilitator, penulis terharu dan bangga atas kepedulian ini, dan hasil perjuangan Mantan TL OC 8 SULUT, TL Ir. Joko Hardiyanto, Mantan Korkot Bitung Fajar Syafruddin S.Sos. Mantan Korkot Bitung juga,  Rita Siripe S.Pd.eluruh LKM, Relawan, Fasilitator  kiranya semua ini menghasilkan karya yang manis untuk masyarakat kita.

Saat ini, Korkot Bitung Ir. Teddy Sulangi dengan eforia dan antusiasmenya yang tinggi terus menggalang kebersamaan dan mengangkat potensi-potensi Kota Bitung, baik itu Relawan, BKLM/LKM dan tentunya fasilitator.
Bersama peduli, pasti bisa kita atasi.

Tulisan ini sudah pernah di muat di wwe.p2kp.org

@Terlampir Berita Foto 28 Oktober 2011 di Bitung SULUT
Penulis:
Dianne Deivie Dirk
SF Tim 22 Korkot Bitung SULUT OC 8
HP. 0813 5605 6434