Minggu, 01 Februari 2015

Program PLPBK jadi program andalan di Kota Bitung

















Program yang kami perjuangkan selama beberaa tahun bisa menjadi kenyataan. Program PLPBK
 (Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komuniatas) bisa masuk di Kelurahan Sagerat.


PLPBK Penataan Lingkungan Berbasis Komunitas program yang menjadi andalan di Kota Bitung dalam merubah wajah Kelurahan lewat perubahan perilaku.

Bersyukur wajah Sagerat bisa mendapatkan Program PLPBK, dengan Dana Stimulan sebesar Rp. 1 M dari pusat dan Rp. 500 juta dalam bentukfisik dari APBD Kota Bitung.


PLPBK telah menjadi buah bibir masyarakat bahkan banyak yang menanyakan seperti apa wajah program  program ini. “ Apa dang yang torang mo beking di Sagerat lewat ini PLPBK?”, demikian ditanyakan Ketua LPM, Gabriel Ganda, SH saat pertemuan dengan TIPP (Tim Perencana Partisipatif), LKM dan Fasilitator. “Program ini, dari torang oleh torang dan untuk torang Pak, jadi apa yang akan torang beking adalah hasil Pemetaan Swadaya dan perencanaan dari masyarakat”, demikian dijelaskan oleh TAPP (Tenaga Ahli Perencanaan Partisipatif) Yufita Lengkey, ST, M.Eng.


PLPBK Sagerat, yang mengangkat konsep Agropolitan dan Agrowisata menjadi harapan masyarakat untuk Sagerat yang lebih baik. Ketika ditanyakan penulis apa yang bisa dilakukannya sebagai waga masyarakat sehubungan dengan program ini  Ketua TIPP mengatakan, “Sebisa mungkin torang akan melakukan apa yang terbaik untuk membangun Kelurahan Sagerat, apalagi dengan adanya Dana Stimulan ini, torang ini mengubah Sagerat lebih baik lewat Penataan Lingkungan dan Perubahan Perilaku yang bertanggung jawab dari masyarakat,” pungkasnya.



Reynold Roath: “Hidup adalah memperjuangkan kesejahteraan masyarakat”.


Dengan Motor Metik birunya, dengan gesit lelaki yang berpostur jangkung in melewati jalan tanah yang kadang becek akibat belum di aspal, dari arah Camp Klabat lingkungan 4 Sagerat Weru 2.  Ditengah kesibukannya dalam mengurus kegiatan pembangunan dari lingkungan tempat tinggal lewat Lembaga Donor yang bernama HABITAT,  menyempatan diri untukmemberikan hidupnya untuk masyarakat Sagerat Weru 2.

Terlahir dari keluarga Tentara beliau biasa hidup keras dan berpindah-pindah. Demikian juga ketika pecah kerusuhan Ternate 13 tahun lalu, Enol membawa keluarganya ikut mengungsi ke Bitung.

Reynold Roath, Koordinator LKM Berkat Sagerat Weru 2,  ayah 3 anak dan suami tercinta dari Juliana Kelbulan selalu di Tokohkan di tengah masyarakat.

Sebagai pengungsi beliau miris melihat saudara-saudaranya yang berasal dari Ternate hidup terpuruk tanpa harapan di Bitung. Untuk itulah beliau selalu berjuang bukan hanya untuk keluarganya tapi juga untuk seluruh pegungsi di Bitung, perjuangannya membuahkan hasil, hal itu dibuktikan dengan turunnya bantuan untuk pembuatan perumahan sederhana dengan cicilan yang ringan di 2 kompleks perumahan di kaki Gunung Dua udara, tepatnya di Lingkungan 4, Kelurahan Sagerat Weru 2.

Lelaki berkulit sawo matang yang parlente dan neces ini berprinsip bahwa hidup itu berarti ketika kita bisa memperjuangkan hak hidup lebih baik bagi orang lain

Bartje, si Umar Bakri yang menjadi Relawan

Keramahan sudah menjadi ciri khas dari kesaharian bapak satu putri ini, senyuman tipis selalu menghiasi bibirnya saat bertemu dengan seseorang, seakan menyapa sebelum bicara.


Sebagai si Umar Bakri alias guru yang diangkat menjadi PNS setalah 9 tahun mengabdi di Sekolah Dasar Kelurahan tercinta Tanjung Merah beliau mejalankan tugasnya dengan penuh semangat. Belum lagi tugas relawan membantu kelurahan dalam berbagai tugas kemasyarakatan seperti menjadi panitia dalam Pemilu, tugas-tugas administrasi yang membutuhkan keahlian dalam menjalankan dengan komputer dilakukan tanpa memperhitungkan imbalan.

Tidak heran, diusia yang relatif  muda, 32 tahun, beliau sudah dipercayakan menjadi Koordianator LKM Tana Rundang selama 2 kali masa bakti, 2011-2014 dan 2015-2017.

“Pak Bartje itu, bertanggung jawab, gesit dan jujur, dia memang pantas menjadi Koordinator LKM Tana Rundang,” demikian ungkapan Lurah Tanjung Merah, Ferdinand Katuuk.

Saat diadakan pemilihan Koordinator LKM Tana Rundang, November lalu, 8 orang memilih beliau sebagai Koordinator, sisa 1 orang (yaitu dirinya sendiri) memilih orang lain. Karya dan ketulusannya selalu menuai simpati. 

Rabu, 19 Juni 2013

Kelompok Swadaya Masyarakat Perempuan di Bitung, Sulawesi Utara

Pekerja perempuan di Sagerat ada, bukan karena terpaksa.

Memasuki tahun ke-5 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat  Mandiri Perkotaan di kelurahan Sagerat Kecamatan Matuari kota Bitung SULUT, terus membawa perubahan mengenai  pandangan masyarakat dalam  melaksanakan suatu kegiatan infrastruktur, perlahan tapi pasti, keterlibatan perempuan sudah menjadi hal lumrah dan bukan lagi hal yang “terpaksa” ada karena tuntutan program yang mensyaratkan keterlibatan perempuan sebesar 30 persen. “Memang, semua KSM Infrastruktur  dalam pemanfaatan BLM 1 2013 ini, seluruh pengurusnya ada perempuannya, apakah itu sekretaris, bendahara bahkan ketua dan wakil ketua”, ujar Hanie Ering, Koordinator LKM Nikita Waya, Kelurahan Sagerat Kecamatan Matuari Kota Bitung.

Pekerja perempuan dalam kegiatan pemanfaatan BLM sudah menjadi pandangan biasa di keluarahan ini, Indra Londah, salah satu ketua RT di lingkungan 1 yang dipercayakan KSM untuk menjadi bendahara berujar, “kita (saya) jadi pekerja di kegiatan infrastruktur sudah sejak tahun 2009, sejak BLM I dimanfaatkan dikelurahan ini dan setiap tahun, kita selalu terlibat, kalu (kalau) bukan jadi Panitia (KSM), kita menjadi pekerja biasa dan bukan hanya kita, banyak torang (kami) perempuan-perempuan yang begitu, ada bu Deisy, Frelly, Meiske, Eka dll”.

Pemanfaatan BLM 1 ditahun 2013 ini sementara dilaksanakan, Deysi Kumenit masih dipercayakan menjadi ketua KSM Berhikmat, Seska Lengkong bendaharanya, sementara di KSM Berdikari Indra Londah sebagai bendahara KSM, Frelly Kaawoan, Meiske Tindatu, Yunita dan masih banyak perempuan lainnya menjadi pekerja dalam pembuatan drainase  di lingkungan 1, hal ini sudah menjadi pemandangan biasa jika kita datang memonitoring pelaksanaan kegiatan dikelurahan ini.

“Torang (kami) turut terlibat dalam pembuatan kegiatan infrstruktur disini, ikut menumbuhkan rasa memiliki, begitu juga kami bisa sama-sama memastikan bahwa apa yang torang buat ini, kualitasnya baik dan tentu kami bisa berswadaya lewat tenaga kami..”, ujar Seska Lengkong seorang pekerja perempuan yang sehari-harinya bertugas sebagai ketua RT di lingkungan 4.



“Ada rasa bangga, sebab ketika pekerjaan selesai dan torang (kami) melihat hasilnya, kami puas karena semua ini torang yang buat, anak-anak cucu akan melihat dan merasakan hasil karya orang tua mereka...”, Deysi Kumenit, Ketua KSM Berhikmat menambahkan, sekaligus menutup wawancara kami.

Penulis:   Dianne Deivie Dirk  




Contact Person: Hanie Ering, Koordinator LKM Nikita Waya Sagerat

Berkembang Lewat pemberian diri

Caroline Gorahe

Caroline Gorahe namanya, wanita sederhana berambut keriting yang masih tetap lincah diusianya yang tidak muda lagi. Tinggal di lingkungan 4 Kelurahan Manembo-nembo Tengah, tepatnya di belakang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Petra,  KotaBitung.
  
Walaupun usia sudah menjelang senja, namun Ibu Caro (begitu beliau biasa di sapa) masih mau menjadi relawan, malahan setelah itu BKM Dua Sudara Manembo-nembo Tengah, Kecamatan Matuari Kota Bitung mempercayakan Gorahe memegang UPS (Unit Pengelola Sosial), 3 tahun berturut-turut memegang UPS, Gorahe sukses menjalankan tugasnya menumbuhkan simpati masyarakat kepadanya. Dibalik kesederhanaan hidup bersama keluarga, Gorahe dikenal sebagai orang yang suka menolong dan jujur. Terbukti simpati masyarakat tersebut membawanya menjadi 1 dari 9 anggota BKM di periode berkutnya, 2012-2015.
Awalnya pinjaman bergulir yang diusulakan oleh masyarakt kelurahan  masih diberikan oleh kepada masyarakat yang lebih prioritas menjadapatkan kesempatan itu, setelah BLM terakhir di 2012, Gorahe akhirnya mnyampaikan niatnya untuk memasukkan usulan KSM Seruni yang dipimpinya untuk mendapatkan pinjaman. Bersyukur BKM memutuskan KSM yang beranggotakan 5 orang termasuk Gorahe menjadi salah satu yang mendapatkan kesempatan untuk mengakses dana itu sebesar Rp. 5.000.000/5 anggota.

Beberapa bulan berlalu, usaha pembuatan roti manis Gorahe masih eksis malahan hari demi hari usahanya semakin berkembang, pinjaman bergulir yang diberikan bisa bermanfaat bagi Gorahe dan keluarganya, bahkan kelompok yang di pimpinnya perlahan tapi pasti semakin meningkat usaha dan pendapatan masing-masing anggotanya.

Pasar 




Penulis:   Dianne Deivie Dirk
            
Contact Person: Jarlex Katiandgho (085256149385) Koordinator BKM Dua Sudara, Kelurahan manembo-nembo tengah) 

Selasa, 11 Juni 2013

Dorbolaang, Pulau Lembeh, Bitung, saksi kebersamaan

(ditayangkan di www.p2kp.org, 11 Juni 2013)

Kebersamaan dan kekompakan Tim fasilitator Pemberdayaan masyarakat

Beraksi di KMP Tude di Selat Lembeh

Mungkin kini saatnya berbagi sedikit rahasia, mengapa Tim Koorkot Bitung bisa memborong  Reward dipertemuan tahunan yang digelar KMW OSP 8 dan Satker PNPM Mandiri Perkotaan Sulawesi Utara  di awal bulan Maret 2013 (Berita di www.P2KP.org tanggal 19 Maret 2013 oleh Feidy Kemur). Koorkot dengan kinerja sim terbaik Nasional di 2012.

Bahwa prestasi itu tidak datang dengan sendirinya, itu benar adanya, bahwa prestasi itu perlu diperjuangkan itu betul adanya, bahwa semua pihak yang terlibat dalam tim harus berani terhadap tantangan, bersama membangun kemandirian, itupun tak bisa disangkal. Intinya kebersamaan dan perjuangan dalam tim sambil terus bersama mencari solusi atas permasalahan yang ditemui.

Rapat rutin bulanan  seluruh Tim Koorkot Bitung, dilaksanakan di Kelurahan Doorbolaang Kecamatan Lembeh Selatan, 7 Mei 2013 (Rapat rutin dilaksanakan setiap bulan di lokasi Tim fasilitator yang berbeda). Kali ini selain dihadiri oleh Tim Koorkot Bitung, hadir juga, TA Infrastruktur bersama Tim dari KMW, Camat Lembeh Selatan Elvis Mantouw, S.Sos,  Lurah Doorbolaang, BKM, UP2 dan Sekretariat. Dengan menumpang KMP Tude, dari Pelabuhan penyeberangan di Kelurahan Pateten, Kec. Aertembaga Kota Bitung, hanya memakan waktu sekitar 15 menit sudah tiba di dermaga Kelurahan Papusungan Kec. Lembeh Selatan, Kota Bitung.

Sejumlah kendaraan bermotor milik fasilitator  yang turut dimuat dikapal, siap menjelajahi Pulau Lembeh menuju Kelurahan Doorbolang, melewati sepanjang Kelurahan Papusungan, Pasir Panjang, jalannya yang berkelok-kelok dan struktur tanahnya yang  menanjak, turun  dan naik menambah seru perjalanan ini, tidak terlalu lama, hanya sekitar 40 menit sudah tiba di Doorbolaang.

masih di Papusungan, Kec. Lembeh Selatan

Dalam sebuah tim kerja, sebaiknya ada yang namanya POAC (Planning Organizing Actuating & Controlling) itu dilakukan tim koorkot Bitung, hal yang sama dilakukan oleh tim-tim yang lain dalam pendampingan masyarakat, itu pasti. Namun, membangun kebersamaan dan kepedulian itu mungkin salah satu kunci keberhasilan kekompakan, itu bahkan diungkapkan oleh orang-orang lain diluar tubuh inti koorkot Bitung itu sendiri. “Disini terasa beda, beda dengan ditempat lain, kebersamaan sangat terasa”, demikian tanpa sengaja diungkapkan Akhmad Yani, salah satu auditor yang bertugas mengaudit kegiatan PNPM Perkotaan di SULUT yang sudah 2 bulan bertukagas di SULUT.




TA Infrastruktur mewakili KMW OC 8 SULUT, Novry Wurangian, ST dengan smiling face yang tertahan sebagai ekspresi khas beliau dalam menyampaikan penghargaannya terhadapat suatu prestasi ataupun sekedar penguatan bagi para pemberdayaan masyarakat (fasilitator) menyampaikan, “Kebersamaan Tim Bitung sangat terasa sejak awal keberangkatan jadi tidak heran mengapa banyak prestasi diukir disini”.
Potret pendampingan fasilitator disampaikan disini, termasuk perainkingan antar Tim Bitung (Tim 17-23 plus 35, total ada 8 Tim), perainkingan antar USK (Unit Satuan Kerja), Sosial, Ekonomi dan Teknik, sehingga fasilitator secara pribadi dan timnya bisa bercermin satu dengan yang lain yang secara tidak langsung akan memotivasi.  Menenariknya  lagi Koorkot dan Askot-askot memberikan hadiah-hadiah kecil kepada tim dan USK dengan rainking 3 tertinggi.



Tentu, apresiasi perlu disampaikan kepada pemimpin tim ini, Koorkot Bitung Ir. Teddy Sulangi yang memprakarsai, melihat plus minus masing-masing pribadi dan mengkolaborasikan itu menjadi satu nyanyian yang namanya semangat kebersamaan. Mari membangun dengan hati, We can, if We work with heart.

Audit dan Wisata di Pulau Lembeh Bitung

(dimuat di www.p2kp.org, april 2013)

Tim Audit Terkesan Panorama Kota Bitung 

Menikmati panorama Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara yang indah dan mengesankan tidak pernah direncanakan oleh Akhmad Yani dan Syamsudin, Tim Audit  Kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan Bitung dari KAP (Kantor Akuntan Publik) Muhamad Danial, Jakarta (Auditor Independen) di Kota Bitung, Rabu (27/3/2013).

Kelurahan Mawali, Pulau Lembeh, Bitung SULUT, Indonesia
Di Pulau Lembeh (Lembeh Island), tepatnya Kelurahan Pintu Kota dan Kelurahan Mawali, Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung Sulawesi Utara merupakan tempat yang dipilih untuk di check on the spot (pemeriksaan lapangan) untuk kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan Bitung  Sulawesi Utara.
Perjalanan tim auditor yang didampingi para Askot, SF dan  fasilitator ke lokasi check on the spot cukup menarik karena harus menumpang perahu motor laut melayari Selat Lembeh (Lembeh Straight).

Perjalanan melalui laut menuju Kelurahan Pintu Kota Kecamatan Lembeh Utara meski hanya memakan waktu 15 menit, ternyata sangat  mengesankan bagi kedua auditor. Begitu pula saat perjalanan dari Pintu Kota menuju Kelurahan Mawali, terkesan menjadi perjalanan wisata laut dan alam Selat Lembeh yang tidak kalah dengan laut Bunaken Manado dan Raja Ampat, Papua, mengingat Selat Lembeh sudah sangat terkenal bukan saja panortama alamnya serta keindahan bawah lautnya, juga karena biota-biota lautnya yang unik, struktur alamnya yang indah yang bisa menyayingi Taman Laut Bunaken dan Raja Ampat, meski kesan keseriusan untuk melakukan check on the spot kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan Bitung di kedua kelurahan tersebut, tetap nampak.

Kesempatan pemeriksaan oleh Auditor Independent terhadap kegiatan BKM/LKM yang di fasilitasi oleh PNPM Mandiri Perkotaan menjadi suatu momen yang ditunggu sekaligus ditakuti bagi sebagian pelaku PNPM Mandiri Perkotaan (BKM/LKM, Sekretariat, UP2 dan KSM) tentunya, karena berbagai pemikiran dari masyarakat mengenai manfaat dan fungsi audit itu sendiri.


Walaupun, sudah sering dijelaskan  bahwa pelaksanaan audit ini adalah agar masyarakat bisa mengetahui, apa yang menjadi kekurangan dan apa yang menjadi nilai tambah dari kegiatan fisik maupun administrasi dan pemberdayaan masyarakat itu sendiri, tetap ada juga warga pelaku kegiatan  yang merasa takut menghadapi auditor, walaupun diakhir  pelaksanaan audit mereka akhirnya lega dan plong karena bisa mengoreksi kesalahan jika ada.

Pulau Lembeh adalah sebuah Pulau kecil yang membentengi Pelabuhan Alam di Kota Bitung yang dipisahkan oleh Selat, yang dinamakan juga Selat Lembeh, Pulau ini terdiri atas 2 Kecamatan yaitu kecamatan Lembeh Utara dan Kecamatan Lembeh Selatan.

Kembali ke Pelabuhan Penyeberangan Ruko Pateten, Bitung

Ternyata, walaupun tempat ini harus ditujuh dengan melewati lautan namun, pelaksanaan kegiatan pemberdayaan dan kegiatan fisik dilapangan tidak kalah baiknya dengan yang dilaksanakan didalam Kota Bitung. Bahkan UPL (Unit Pengelolah Kegiatan) di BKM Kelurahan Mawali Kecamatan Lembeh Utara Robert Lumakore mendapat pujian dari Askot Infrastruktur Kota Bitung, Stevy Oike Manoppo, ST. karena dinilai punya andil besar dan maksimal dalam pelaksanaan kegiatan fisik.

Begitu pula, Ahkmad Yani sebagai Ketua Tim Audit dari KAP Muhamad Danial Jakarta menyatakan rasa puasnya dengan pelaksanaan kegiatan pada tahun 2012 di Kelurahan Pintu Kota dan Mawali Kecamatan Lembeh Utara. “saya merasa terkesan dengan masyarakat  Sulawesi Utara dan salut dengan kegiatan PNPM disini, walaupun  kedepan untuk hasil yang lebih baik perlu ada peningkatan dalam hal kontrol dan monitoring  pelaksanaan dilapangan”,  ujarnya.

Adapun kegiatan fisik yang dilakukan di dua kelurahan di Pulau Lembeh selama tahun 2012 yang dapat dikatakan sebagai prioritas yakni  pembuatan jembatan, drainase dan jalan. (*v*)

Penulis: Dianne Deivie Dirk
Senior Fasilitator Korkot Bitung

OSP 8 SULUT